KILAS PANTURA

Tangani Rob, Tanggul Randujajar Diperkuat

KOTA PEKALONGAN – Sebagai langkah penanganan darurat bencana banjir rob, Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) segera memperkuat tanggul penahan gelombang air laut di daerah Randujajar, Kelurahan Pasirkratonkramat, Kecamatan Pekalongan Barat.

“Jadi perbaikan tanggul di Randujajar ini dilakukan di sisi sebelah timur Sungai Meduri. Rencananya DPUPR dalam rangka penanganan darurat bencana akan memperkuat tanggul tersebut sepanjang 700 meter, dengan lebar kurang lebih 0,5 meter, dengan kurun waktu selesai 14 hari,” terang Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) DPUPR Kota Pekalongan, Khaerudin, saat dikonfirmasi via telepon, Jumat (5/6/2020).

Khaerudin menuturkan, penguatan tanggul dilakukan dari sebelah utara pantura di dekat jembatan ke arah utara sampai dengan Jalan Samanhudi, lalu pertigaan Jalan Inspeksi sampai dengan pompa air di Pasirsari atau Randujajar.

Lebih lanjut dijelaskan, secara teknis tanggul yang sudah ada saat ini akan diperlebar kurang lebih setengah meter. Selanjutnya, dari sisi sebelah timur setiap setengah meternya akan dipasang trucuk-trucuk bambu.

“Untuk yang rawan nanti trucuknya diberi jarak 25 cm. Kemudian, dari trucuk ini diberi sasak atau anyaman dari bambu, kemudian ada penguat dari terpal, baru nanti diberi sandbag. Sandbag ini ada dua, dari tanggul yang lama, dan tanggul yang baru. Nanti di tengah-tengah diisi dengan tanah,” papar Khaerudin.

Khaerudin berharap upaya tersebut dapat memperkokoh fisik tanggul Randujajar sehingga tidak lagi mudah jebol. Sementara, untuk menangani kerusakan tanggul darurat yang ada di daerah Slamaran sebelah barat, atau di dermaga Kali Loji, langkah darurat juga segera dilakukan.

“Di samping itu, kita juga tetap berdoa agar air pasang tidak melebihi tanggul yang kita bangun sekarang. Droping sandbag dan tanah untuk tanggul darurat juga sudah kami mulai kemarin,” tandas Khaerudin.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, wilayah pesisir utara Kota Pekalongan dilanda banjir rob setinggi 50-70 sentimeter. Banjir yang terjadi sejak 1 Juni lalu mengakibatkan tujuh ribuan warga terdampak, dan 250 orang harus mengungsi.

Wali Kota Pekalongan, Saelany Machfudz juga telah menetapkan status Tanggap Darurat Rob di wilayahnya. Status tersebut diberlakukan diberlakukan selama 14 hari, mulai 4 Juni sampai dengan 17 Juni 2020.

“Ada beberapa hal yang menyebabkan rob semakin tinggi, seperti jebolnya tanggul di Meduri, gelombang tinggi yang menyebabkan air laut di pantai utara limpas ke jalan-jalan di Kota Pekalongan, Sungai Gabus, dan Kalibanger yang airnya limpas ke perumahan (di) daerah Slumprit, dan Degayu. Meskipun sebelumnya jalan sudah ditinggikan,” terang Saelany saat jumpa pers di Setda Kota Pekalongan, Jumat (5/6/2020).

Lebih lanjut disampaikan, Pemkot Pekalongan juga telah berkoordinasi dengan Gubernur Jawa Tengah untuk menangani rob dengan pembangunan infrastruktur yang permanen.

“Pemerintah Kota Pekalongan telah meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan pemerintah pusat untuk mengkaji kembali. Penanganan ke depannya kami inginkan pembangunan permanen atau tetap,“ jelas Saelany.

Tak lupa, wali kota menyampaikan apresiasinya kepada seluruh instansi yang telah bekerja sama secara cepat membantu masyarakat terdampak limpasan rob, antara lain BPBD bersama Pekalongan Tanggap, Pekalongan Peduli, Pekalongan Rescue, dan lainnya

“Terima kasih pula kepada jajaran Brimob, TNI, dan Polri TNI yang membangun dapur umum untuk menyiapkan makanan bagi para pengungsi dan warga terdampak rob,” kata Saelany.(pemkotpekalongan/pemprovjateng)

Loading...

BERITA POPULER

To Top