KILAS SEMARANG

Polda Jateng Bongkar Sindikat Order Fiktif Taksi Online

KILASJATENG.COM, SEMARANG – Untuk meraup keuntungan pribadi, ada-ada saja yang dilakukan oknum sopir taksi online di Jawa Tengah ini. Mereka menggunakan order fiktif.

Namun aksi mereka dibongkar kepolisian. Berdasarkan laporan dari pihak Grab yang merasa dirugikan, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah berhasil mengungkap sindikat pengemudi taksi daring yang menggunakan modus order fiktif.

Dalam aksinya, para pelaku memanipulasi aplikasi pemesanan untuk memperoleh keuntungan dari praktik ilegal tersebut.

Menurut Kasubdit II Ekonomi Khusus Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah AKBP Teddy Fanani, bahwa dalam pengungkapan kasus ini Polda berhasil mengamankan seorang hacker dan tujuh pengemudi.

Bila pengemudi ditangkap di Kabupaten Pemalang, sang hacker justru ditangkap di Semarang.

Lelaki berinisial TN itu merupakan seorang peretas yang memiliki kemampuan memanipulasi aplikasi pemesanan dan penerima pesanan. Dia ditangkap oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Tengah.

Menurutnya, dalam beraksi modus yang digunakan pelaku yakni dengan menggunakan tiga aplikasi yang dimanipulasi.

Aplikasi-aplikasi yang dimanipulasi itu di antaranya aplikasi pemesanan yang dimiliki konsumen serta aplikasi penerima pesanan yang dimiliki oleh pengemudi.

“Para pengemudi ini membawa beberapa ponsel yang digunakan untuk memesan dan menerima pesanan,” katanya.

Dengan aplikasi yang dimanipulasi ini, kata dia, para pelaku bisa melakukan pemesanan fiktif yang kemudian diterima sendiri.

“Biasanya jarak tempuhnya pendek,” ujarnya.

Dari pesanan-pesanan itu, menurut dia, terdapat mekanisme perolehan poin yang harus dibayarkan oleh Grab kepada mitra kerjanya.

“Setiap 14 poin yang diperoleh pengemudi, maka ada Rp 350 ribu yang harus dibayarkan oleh Grab,” katanya.

Bonus atas poin dari order fiktif inilah yang menyebabkan kerugian bagi Grab.

“Ada juga yang menggunakan kendaraan motor,” jelasnya.

Dia memperkirakan masih ada oknum pengendara taksi online yang menggunakan data fiktif. Dari tujuh driver, ternyata bukan warga Pemalang. Umumnya berasal dari Jakarta.

Sementara untuk tersangka TN sebagai teknisi sekaligus hacker yang menjual jasa memanipulasi aplikasi, kata dia, menjual Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu per aplikasi.

Namun, menurut dia, tersangka biasa menjual satu paket telepon seluler sekaligus berisi aplikasi yang sudah dimanipulasi dengan harga bervariasi. Mulai harga Rp2 juta, Rp2,5 juta, hingga Rp3 juta.

Hacker yang belum lama berdomisili di Semarang ini sebelumnya tinggal di Yogyakarta. Dia sempat mengiklankan diri melalui media sosial.

Atas perbuatannya, para tersangka selanjutnya dijerat dengan Undang-undang Nomor 9 tahun 2016 tentang informasi dan transaksi elektronik. (Art)

Loading...

BERITA POPULER

To Top