Peringati HUT Kabupaten Semarang ke-497, Lima Dalang Tampil Bersama

KILASJATENG.COM, UNGARAN – Peringati Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Semarang ke-497, digelar pentas wayang kulit dengan menampilkan lima dalang dari Kabupaten Semarang.

Pentas wayang semalam suntuk ini digelar di Alun-alun Tambakboyo, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Sabtu (17/3) malam.

Kelima dalang yang tampil adalah dalang bocah Athan Allan Dharmasaputra dari Bergas, yang masih tercatat sebagai siswa SD negeri di Kota Salatiga yang sarat prestasi.

Lalu, dalang remaja Ridho dari Tengaran, serta tiga dalang senior atau dalang sepuh yaitu Ki Harsono Baruklinting (Banyubiru),  Ki Jaryono (Karangjati), dan Ki Sudomo.

Dalam pentas wayang ini, turut hadir Bupati Semarang H Mundjirin beserta para pejabat Pemerintah Kabupaten Semarang serta ratusan tamu undangan dan masyarakat Ambarawa dan sekitarnya.

Mustari (63) warga Baran, Kecamatan Ambarawa yang hoby nonton wayang kulit mengatakan, bahwa pentas wayang kulit seperti ini patut untuk digelar secara rutin di Kabupaten Semarang.

Bahkan, dapat mementaskan dengan menonjolkan dalang asli dari kabupaten ini. Pasalnya, dalang dari Kabupaten Semarang ini juga tidak kalah dengan dalang-dalang lain di luar Kabupaten Semarang.

“Pentas wayang kulit dengan menampilkan dalang asli kabupaten ini, layak untuk digelar secara rutin. Pasalnya, dengan pentas wayang ini secara tidak langsung telah ikut nguri-uribudaya Jawa. Bahkan, dapat ikut pula disampaikan pesan-pesan masyarakat dalam pentas wayang ini,” kata Mustari, disela pentas wayang kulit di Alun-alun Tambakboyo, Ambarawa.

Sementara, Joko Prasetyo (34) warga Bawen menyatakan, pentas wayang kulit dengan mementaskan dalang bocah, hal ini layak untuk didukung.

Pasalnya, ini sebagai salah satu pemicu anak-anak untuk memulai mencintai budaya Jawa, khususnya wayang kulit. Disini, tampil dalang bocah Athan Allan Dharmasaputra, hal ini tentunya dapat mamacu anak-anak untuk memulai mencintai wayang kulit.

“Kami memberikan apresiasi kepada panitia penyelenggara. Paling tidak kedepannya, pentas wayang kulit seperti ini dapat mementaskan dalang-dalang asli Kabupaten Semarang. Mulai dari dalang bocah, remaja atau pemuda maupun dalang senior atau dalang sepuh. Ini sebagai salah satu nguri-uri budaya Jawa,” tandas Yoyok, demikian sapaan akrab Joko Prasetyo yang juga seorang guru SMP di Salatiga. (Her)

Redaksi:
Related Post