RAGAM

Budayawan Ini Khawatir Peringatan Sumpah Pemuda Bentuk Kebuntuan Pikiran

Jakarta, Liputan.co.id – Budayawan Radhar Panca Dahana mengungkap kerisauan hatinya terhadap berbagai peringatan Sumpah Pemuda ke-89 yang digelar oleh banyak pihak.

Menurut Radhar, peringatan hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober 2017 tersebut sangat mengganggu pikirannya karena tersesat di seremonial.

“Sebenarnya yang mengganggu dalam pikiran saya adalah tentang sesat seremonial. Sebab bertahun-tahun kita selalu merayakan seremonial yang luar biasa, tetapi saya belum pernah melihat ada seseorang atau siapa pun mencoba mengambil signifikansi dari peristiwa itu,” kata Radhar, dalam acara diskusi “Memaknai Sumpah Pemuda”, di Media Center DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Senin (30/10/2017).

Peringatan Sumpah Pemuda yang digelar menurutnya, kesannya semacam satu romantisme yang membayangkan ada satu zaman yang luar biasa.

“Tapi yang lebih saya khawatirkan, acara itu bentuk dari kebekuan pikiran karena tidak mampu melihat persoalan, kenapa saat itu ada sekelompok puluhan atau sekian ratus orang sebenarnya yang mau datang, tiba-tiba berpikir untuk menyatukan dirinya dalam satu tanah tumpah darah, karena masing-masing sudah punya tumpah darahnya sendiri.

Dia tegaskan, orang Bali, Manado, Bugis sudah punya tumpah darah. Tapi tiba-tiba mau menciptakan satu tumpah darah, darah yang baru. Orang Banten lanjuntya, saat itu langsung berhubungan dengan Raja Inggris, Raja dan Portugis. Begitu juga Raja Gowa, Raja Ternate, sudah terlebih dahulu mempunyai hubungan internasional yang luar biasa. Kesultanan Yogyakarta, apalagi,” tegasnya.

Tetapi semua tiba-tiba mereka merendahkan suku atau bangsanya sendiri untuk menciptakan suatu Bangsa yang baru. “Dari mana cara berpikir itu. Secara individual maupun kolektif, siapa yang meracuni semuanya, padahal mereka dari berbagai daerah?”, tanya Radhar.

Termasuk megatakan bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Mereka ujar Radhar, tidak menyebut Melayu, karena Melayu itu adalah politik kolonial untuk melakukan imperialisme budayanya dimulai dengan 1901 ketika ada Politik etis,” ungkapnya.

Loading...

BERITA POPULER

To Top