EKOBIS

Selama Ramadhan dan Lebaran, Bulog Surakarta Jamin Harga Beras Tak Naik

ilustrasi: int

KILASJATENG.COM, SOLO – Badan Urusan Logistik (Bulog) Subdivre III Surakarta memastikan, selama Ramadhan dan menjelang Lebaran tahun ini, harga beras tidak ada kenaikan. Pasalnya, stok beras Bulog masih mencukupi hingga lima bulan mendatang. Selain itu sejak April lalu, angka serapan cadangan beras pemerintah (CBP) sudah mencapai 5.850 kilogram (kg).

Kepala Bulog Subdivre III Surakarta Titov Agus Sabelia mengatakan bahwa stok beras Bulog di eks Karesidenan Surakarta mencapai 20 ribu ton dengan penyerapan beras dari petani saat ini rata-rata 200 -300 ton per hari.

”Hingga lima bulan ke depan kami siap. Bahkan untuk operasi pasar Bulog siap melaksanakan program ini hingga akhir tahun,” ujarnya kemarin (24/5).

Untuk pengendalian harga, Bulog bekerjasama dengan beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN), seperti Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dan Pertani. Pasokan diberikan agar stok hingga ke pedagang cukup. Sekaligus harga barang juga stabil.

Khusus di Solo ada lima pasar yang menerima pasokan beras Bulog dan tiga BUMN. Pasar yang ditunjuk yakni Pasar Gede, Legi, Harjodaksino, Nusukan dan Jongke. Sejak April lalu, kelima pasar ini sudah menyalurkan sebanyak 5.850 kg beras CBP. Alokasinya untuk Pasar Harjodaksino 1.000 kg, Nusukan 2.000 kg, Jongke 600 kg, dan sisanya dibagi antara Pasar Gede dan Pasar Legi.

Untuk harga saat ini Bulog menurunkan dari Rp 9.000 per kg menjadi Rp 8.950 per kg. harga ini untuk harga beras dengan kualitas medium. Sedangkan untuk premium harganya dipatok Rp 11.600 per kg, gula dihargai Rp 12 per kg, minyak Rp 12 ribu per kg, dan tepung Rp 7 ribu per kg.

”Kalau harga kami tentukan dengan dibawah Rp 500 dari HET (harga eceran tertinggi),” ujarnya.

Untuk penggelontoran beras medium dari CBP, Bulog memakai beras kemasan dengan branding Beras Kita yang dikemas masing-masing 5 kg. Dengan harga beras yang terkendali serapan beras medium ini juga dinilai kurang begitu bagus.

”Antusiasnya kurang. Kalau yang OP pertama dulu itu serapannya lumayan bagus karena selisih dengan harga pasar cukup signifikan. Sekarang ini kan selisihnya tipis, masyarakat masih bisa beli beras bukan Bulog, tapi ya nggak masalah,” ujarnya.

Sementara itu  Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Surakarta Subagiyo mengatakan bahwa tahun ini tidak mengalokasikan anggaran untuk paket sembako operasi pasar. Hal ini lantaran rekomendasi dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang mencoret kegiatan tersebut karena sasarannya dinilai tak jelas.

”Sesuai rekomendasi pasar murah dalam bentuk paket sembako harus jelas, tepat sasaran untuk warha miskin dengan ketetapan pemerintah dan ada permintaan,” ujarnya.

Hingga saat ini belum ada formulasi ideal mengenai penyaluran operasi pasar yang tidak melanggar rekomendasi BPK. Dinas perdagangan (disdag) masih berusaha mencari formula yang tepat. Selain itu rekomendasi ini tidak hanya untuk disdag saja, namun juga untuk dinas pertanian dan ketahanan pangan (dispertan KP). (JPC/why)

Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top