KILAS PANTURA

Kepada Ganjar, Perempuan Lereng Bukit Kendeng Ini Suarakan Kelestarian Alam

PATI – Perawakannya sederhana, ayu, dan bersuara lantang. Dengan keberanian seadanya, dia acungkan tangan untuk bertanya ke Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tentang menjaga lingkungan saat di Pegunungan Kendeng Utara Lorodan Semar di Desa Sumbersari, Kecamatan Kayen, Pati, Rabu (15/1/2020).
“Bagaimana cara meningkatkan kesadaran masyarakat sekitar Pegunungan Kendeng supaya bisa berpikir kritis terhadap lingkungannya sendiri ?” tanya Nita Sri Ayu Widiastuti, anggota Karang Taruna Sari Mulyo desa setempat.
Perempuan 23 tahun ini justru malah balik ditanya Ganjar tentang masalah yang terjadi sebagai bentuk kurang sadarnya warga. Yakni soal penebangan liar yang dilakukan agar warga atau si penebang mendapat uang.
“Mereka butuh uang. Kalau kamu sendiri bagaimana?” tanya Ganjar.
“Kalau saya akan saya ingatkan agar jangan menebang pohon. Karena bisa menyebabkan banjir,” jawab Nita.
Ganjar langsung menyatakan, pertanyaan Nita telah dijawab sendiri. Menebang adalah tindakan yang merugikan masyarakat, karena akan berdampak pada lingkungan, mengakibatkan banjir hingga longsor.
Ditambahkan, perbukitan Kendeng saat ini terhitung gundul. Maka tugas masyarakat adalah menyelamatkan. Gubernur pun menyatakan kedatangannya untuk menanam pohon di Kendeng.
Dia berharap upaya menghijaukan kembali bisa menghindarkan lingkungan dari bahaya longsor, dan banjir.Sehingga bukan hal nyinyir saat ada bencana melainkan melakukan penanaman di bukit.
“Air ini (aliran di Lorodan Semar)  bisa jernih apabila pohonnya banyak. Maka dari itu, mari kita bersama-sama menanam pohon dan menyelamatkan lahan kritis di Pegunungan Kendeng ini,” kata Ganjar.
Sementara Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo melihat, Pegunungan Kendeng utara saat ini kondisinya kritis. “Sekitar 12 ribu hektare lahan kritis di wilayah Pegunungan Kendeng utara,” kata dia.
Untuk mengatasi kondisi agar tak semakin parah, setidaknya dibutuhkan sekitar 4,8 juta pohon di wilayah Kendeng. Dengan asumsi setiap satu hektare membutuhkan 400 pohon.
Kepala Perhutani Divisi Regional Jawa Tengah Endung Trihartaka menjelaskan, pihaknya terus melakukan reboisasi  dan rehabilitasi di lahan yang kosong. Seperti di daerah Kendeng, di mana terdapat lahan kosong seluas 430 hektare.
“Di sini jumlah lahan kosong ada 430 hektare. Kami dari kehutanan selalu mereboisasi lahannya. Kami tanami semua. Ada tanaman alpukat, durian, petai,” kata Endung.
Menurut dia, penanaman harus dilakukan agar lahan kosong bisa termanfaatkan dengan maksimal. (pemprovjateng)
Loading...

BERITA POPULER

To Top