KILAS SEMARANG

Bersepeda, Hendi Beri Perhatian Anak-anak Berkebutuhan Khusus di YPAC

KILASJATENG.COM, SEMARANG – Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengawali aktifitasnya dengan bersepeda menyusuri jalanan. Secara khusus dirinya bersepeda untuk memudahkannya melihat langsung kondisi infrastruktur fisik di Kota Semarang.

Sejumlah proyek pembangunan yang sedang dalam proses pengerjaan seperti alun-alun Kota Semarang, Kota Lama, hingga pembersihan rel kereta api yang terletak di Kemijen pun tak luput disambanginya.

Tak hanya itu, usai berkeliling melakukan sejumlah tinjauan, Wali Kota yang akrab disapa Hendi itu juga mengunjungi Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) yang berlokasi di Jalan KH Ahmad Dahlan, Semarang.

Kedatangannya secara langsung disambut hangat oleh para siswa, guru, dan orang tua murid yang tidak menyangka akan bertemu langsung dengan orang nomor satu di Kota Semarang.

Dalam kesempatan tersebut, Hendi menyampaikan bahwa kedatangannya guna memberikan motivasi dan semangat kepada para siswa agar selalu merasa bahagia, pantang menyerah dan terus bersemangat.

Ia juga memberikan apresiasinya kepada para guru dan orang tua murid yang dengan sabar dan sepenuh hati mendidik dan merawat anak-anak berkebutuhan khusus.

“Terima kasih kepada para guru dan para wali murid, saya berharap para guru dan wali murid tetap bersemangat menjaga dan mendidik para siswa agar menjadi anak-anak yang lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara,” ujarnya, Jumat (6/9).

Usai memberi sambutan, Hendi mendatangi salah seorang siswa bernama Muhammad Dito Rohmanudin. Penderita tuna daksa yang berusia 15 tahun itu merupakan siswa asal kota Semarang yang merupakan pembalap kursi roda.

Kepada Dito, Hendi menyampaikan kalimat-kalimat penyemangat dan apresiasi karena meskipun dengan keterbatasan yang ada, ia tetap mampu mengharumkan nama Kota Semarang melalui olah raga balap kursi roda.

Ia berpendapat bahwa perhatian masyarakat terhadap para penyandang disabilitas ini sangat penting untuk membangun semangat mereka. “Saya minta masyarakat untuk tidak memandang sebelah mata penyandang disabilitas dan menghimbau untuk memberi ruang yang sama bagi orang-orang berkebutuhan khusus agar mereka tidak merasa kecil hati dan terdiskriminasi,” katanya.

Saat ini di Jawa Tengah terdapat 18 SD dan 7 SMP yang terbuka untuk anak berkebutuhan khusus. Hendi mengatakan, adanya sekolah-sekolah inklusi itu merupakan salah satu bentuk pemerataan dan perwujudan pendidikan tanpa diskriminasi.

Dengan demikian, anak berkebutuhan khusus dan anak-anak pada umumnya dapat memperoleh pendidikan yang sama. Dibukanya akses sekolah umum untuk anak berkebutuhan khusus itu sebagai salah satu upaya solutif di bidang pendidikan.

“Saya berharap di Kota Semarang akan semakin banyak sekolah-sekolah inklusi yang dapat memenuhi kebutuhan anak-anak difabel tersebut,” tandasnya. (Art)

Loading...

BERITA POPULER

To Top